POPULASI
BADAK JAWA DAN KELANGKAANNYA
DI
INDONESIA
Pendahuluan
Badak
jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) merupakan salah satu dari dua jenis
spesies badak yang berada di indonesia. Spesies ini paling langka di antara 5
spesies badak yang ada di dunia (WWF 2009), sehingga badak jawa ini
dikategorikan sebagai critically endangered atau terancam punah dalam daftar
Red List Data Book yang dikeluarkan oleh IUCN (International Union for
Conservation of Nature and Natural Resources) (Ellis S 2010, IRF 2010, IRF
2011).
Sementara itu CITES (Convention of
International Trade in Endangered Species) telah mengkategorikan badak jawa
dalam kelompok Appendix I. Badak jawa juga diklasifikasikan sebagai jenis satwa
dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan
Satwa Liar.
Klasifikasi
Badak Jawa
Badak
adalah binatang berkuku ganjil (perrisodactyla), pada tahun 1758 Linnaeus telah
memberi nama marga (genus) Rhinoceros kepada badak jawa. Secara taksonomi badak
Jawa diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Super kelas : Gnatostomata
Kelas : Mammalia
Super ordo : Mesaxonia
Ordo : Perissodactyla
Super famili : Rhinocerotides
Famili : Rhinocerotidae
Genus : Rhinoceros Linnaeus, 1758
Spesies : Rhinoceros sondaicus Desmarest,
1822
Rhinoceros:
berasal dari bahasa Yunani yaitu rhino, berarti "hidung"
dan ceros, berarti "cula" sondaicus: merujuk
pada kepulauan Sunda di Indonesia. (Bahasa Latin -icus mengindikasikan
lokasi), "Sunda" berarti "Jawa" Sedangkan dalam bahasa
Inggrisnya Badak Jawa disebut Rhino javan.
Jenis
Badak Didunia
Ada lima jenis badak didunia yaitu :
1. Badak Afrika Putih
Badak afrika putih (Cerathotherium simum) adalah
badak paling besar dengan tinggi badan 1,8 meter dan panjangnya bisa mencapai 5
meter, memiliki dua buah cula. Cula depan bisa mencapai 137 cm panjangnya dan
cula kedua panjangnya bisa mencapai 60 cm.
2. Badak Afrika Hitam
Badak afrika hitam atau Dicerros
bicornis tingginya bisa mencapai 1,6 meter dan panjangnya 4 meter.
Memiliki dua buah cula yang panjuangnya bisa mencapai 70cm di depan dan 50 cm
di belakang.
3. Badak India
Badak india (Rhinoceros
unicornis) memiliki satu cula yang panjangnya mencapai 60 cm. Tinggi
badan 170 cm, dan panjang 3,8 meter. Badak ini hidup di anak benua bagian
selatan.
4. Badak Sumatera
Badak Sumatera
memiliki dua buah cula yang bisa mencapai panjang 80cm di bagian depan
dan 20 cm di bagian belakang. Tinggi badan 140 cm dan panjang mencapai 3 meter.
Badak Sumatera dapat dijumpai di pulau Sumatera (Dicerorhinus
sumatrensis) atau sering juga disebut badak kerbau. Badak ini (Dicerprhinus
harrissoni) juga dapat ditemukan di kawasan hutan di Kalimantan timur.
5. Badak
Jawa
R.
sondaicus Desmarest adalah
jenis badak yang paling kecil dengan tinggi badan 140 cm, dan panjangnya 3
meter. Memiliki satu cula dengan panjang mencapai 30 cm.
Deskripsi
Analitik

Berdasarkan
penampilan bentuk tubuh dan rupa, badak jawa memiliki ciri fisik sebagai
berikut:
Deskripsi
Diagnostik
1. Kegunaan Cula
Badak jawa
jarang memakai culanya untuk bertarung, namun memakainya untuk memindahkan
lumpur di kubangan, untuk menarik tanaman supaya bisa dimakan, dan membuka
jalur melewati vegetasi yang tipis.
2. Reproduksi
Badak
jawa memiliki usia yang cukup panjang, yaitu mencapai usia 35 tahun. Badak
jantan mencapai fase dewasa setelah 10 tahun, sementara betina pada usia 5
sampai 7 tahun dengan masa mengandung selama 15 – 16 bulan. Dan masa Interval
kelahiran spesies ini 4–5 th. Sehingga menyebabkan pertumbuhan populasi badak
jawa menjadi sangat lambat, yaitu sekitar 1% per tahun.
Badak
jawa mempunyai perilaku unik dalam menarik perhatian pasangan pada saat
bercumbu dan melakukan perkawinan. Cara menarik pasangan dilakukan dengan
saling adu kekuatan dan berkelahi. Dimulai dengan suara ancaman yang kemudian
dilanjutkan dengan bentrok adu kekuatan, biasanya dimulai oleh Rhino betina.
Sehingga tidak mengherankan, adanya luka-luka pada Rhino Jawa. Namun demikian,
tidak pernah dijumpai adanya perkelahian antara sesama jantan untuk
memperebutkan betina.
3. Berkubang
Berkubang
digunakan badak untuk melindungi suhu tubuh dan dapat menghindari dari penyakit
dan parasit. Badak jawa tidak menggali kubangan lumpurnya sendiri, namun lebih
senang memakai kubangan binatang yang lain atau lubang yang nampak dengan cara
alami, yang dapat memakai culanya untuk memperluas wilayah kubangan. Area
mencari mineral juga amat mutlak di karenakan nutrisi badak di terima dari
garam. Wilayah jantan semakin luas dibanding betina dengan luas lokasi jantan
12–20 km² dan lokasi betina yang diperkirakan 3–14 km².
4. Bertarung
Gigi
serinya panjang dan tajam ; saat badak jawa bertempur, mereka memakai gigi ini.
Badak Jawa dewasa tak mempunyai musuh alami. Spesies ini melarikan diri ke
rimba saat manusia mendekat hingga sukar untuk diteliti. Saat manusia terlampau
dekat dengan badak jawa, badak itu dapat menjadi agresif dan dapat menyerang,
menikam dng gigi serinya di rahang bawah, serta dengan kepalanya. Karakter
anti-sosialnya barangkali adalah adaptasi tekanan populasi ; bukti histori
mengusulkan bahwa spesies ini dulu lebih berkelompok.
5. Makanan
Badak jawa
merupakan hewan herbivora dan makan berbagai macam spesies tanaman, terlebih
tunas, ranting, dedaunan muda dan buah yang jatuh. Umumnya tumbuhan yang
disukai oleh spesies ini tumbuh di tempat yang terkena cahaya matahari, yaitu
pada pembukaan lahan baru, semak-semak dan jenis vegetasi yang lain tanpa pohon
besar. Badak menjatuhkan pohon muda untuk meraih makanannya dan mengambilnya
dengan bibir atasnya yang panjang dan tinggi. Di belakang gigi seri, enam gigi
geraham panjang dipakai untuk mengunyah tanaman kasar.
Dalam
mencari makanan, badak jawa melakukannya di malam hari dengan pergi
ketempat-tempat dekat hutan yang didominasi semak belukar yang lebat atau
dengan pepohonan yang bertangkai rendah dekat sungai dan dataran rendah pesisir
Ujung Kulon seperti daerah Karang Ranjang, Cikeusik, Gunung Honje sampai
Tanjung Ujung Kulon.
Badak jawa dewasa
berbobot 900 – 2300 kg , dan diperkirakan makan 50 kg makanan per hari.
Layaknya badak Sumatra, spesies badak ini membutuhkan garam untuk makanannya.
Area melacak mineral umumnya tak ada di Ujung Kulon, namun badak Jawa tampak
minum air laut untuk nutrisi sama yang diperlukan. Masalah terbesar yang ada di
Ujung Kulon, sebagian makanan badak serupa dengan banteng (Bos javanicus)
yang menyebabkan mereka harus berkompetisi mendapatkan makanan.
Habitat
dan Penyabaran

Gambar
2. Peta penyebaran badak jawa
R. sondaicus
Desmarest pernah menyebar dari Assam dan Benggala, (tempat tinggal
mereka akan saling melengkapi antara badak Sumatra dan India di tempat
tersebut), ke arah timur sampai Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam,
dan ke arah selatan di semenanjung Malaya,
serta pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan.
Badak Jawa hidup di hutan hujan dataran rendah, rumput tinggi dan tempat tidur
alang-alang yang banyak dengan sungai, dataran banjir besar atau daerah basah
dengan banyak kubangan lumpur. Walaupun dalam sejarah badak jawa menyukai
daerah rendah, subspesies di Vietnam terdorong menuju tanah yang lebih tinggi
(diatas 2.000 m), yang disebabkan oleh gangguan dan perburuan oleh manusia.
Tempat hidup R. sondaicus Desmarest telah
menyusut selama 3.000 tahun terakhir, dimulai sekitar tahun 1000 SM, tempat
hidup di utara badak ini meluas ke Tiongkok, tetapi mulai bergerak ke selatan
secara kasar pada 0.5 km per tahun karena penetap manusia meningkat di daerah
itu. Badak ini mulai punah di India pada dekade awal abad ke-20. Dan diburu
sampai kepunahan di semenanjung Malaysia tahun 1932.
R. sondaicus Desmarest dapat hidup selama
30-45 tahun di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah dan daerah daratan
banjir besar. R.
sondaicus Desmarest biasanya menghindari manusia, tetapi
akan menyerang manusia jika merasa diganggu. Peneliti dan pelindung alam jarang
meneliti binatang itu secara langsung karena kelangkaan mereka dan adanya
bahaya mengganggu sebuah spesies terancam. Peneliti menggunakan kamera dan
sampel kotoran untuk mengukur kesehatan dan tingkah laku mereka. Oleh karena
itu R. sondaicus Desmarest lebih
sedikit dipelajari daripada spesies badak lainnya.
Populasi
R. sondaicus Desmarest

Gambar 3. Populasi Badak Jawa dari
tahun 1967-2009 di Ujung Kulon
Akibat perburuan liar, jumlah badak jawa menurun drastis. Menurut data yang
dirilis WWF, pada tahun 1960-an jumlahnya hanya 20 hingga 30 ekor saja di Ujung
Kulon. Setelah upaya konservasi sepanjang 1967 sampai 1978, populasinya
meningkat hingga dua kali lipat.
Pada tahun 1967-2008 inventarisasi atau yang lebih
dikenal dengan istilah ”Sensus Badak jawa” dengan metode
Schenkel ”track count with strip method” yakni menaksir besar
populasi dan klasifikasi umur badak berdasarkan perhitungan jejak atau tapak
kaki yang ditemukan di 15 buah jalur transek permanen yang dibuat dengan jarak
antar transek ± 2km. Namun metode sensus atau track count with strip method ini
dinilai kurang memuaskan. Hal ini terjadi karena faktor-faktor “human error”.
Sehingga beralih ke metode capture, mark and recapture (CMR) yaitu pemasangan
kamera trap, maka akan didapatkan validitas data yang lebih baik karena hal ini
sangat penting untuk mendapatkan jumlah populasi yang mendekati kebenaran dan
berhubungan dengan strategi penyelamatan satwa ini di masa datang.
WWF Indonesia
mengupayakan untuk mengembangkan habitat kedua untuk badak jawa di karenakan
bila berlangsung serangan penyakit atau bencana alam layaknya tsunami, letusan
gunung berapi Krakatau serta gempa bumi, populasi badak jawa dapat segera
punah. Disamping itu, di karenakan persaingan dengan populsi banteng untuk
ruang dan juga makanan, maka populasinya makin terdesak.
Populasi Rhinoceros
sondaicus, menurut hasil pendataan 2011 mengalami penurunan. Jumlah
sebelumnya adalah 50 ekor di kawasan TNUK kini tinggal 35 ekor.
Pendataan itu berdasarkan hasil rekaman video trap yang dipasang di sejumlah titik di kawasan Semenanjung Ujung Kulon. Dari 35 ekor itu sebagian besar berjenis jantan.
Pendataan itu berdasarkan hasil rekaman video trap yang dipasang di sejumlah titik di kawasan Semenanjung Ujung Kulon. Dari 35 ekor itu sebagian besar berjenis jantan.
WWF-Indonesia
memperkirakan populasi Badak Jawa di Ujung Kulon berada dalam kisaran 29 - 47
individu dengan nilai rata-rata 32 ekor (data tahun 2009-2010) yang kemudian
dilanjutkan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) di tahun 2011
dengan, informasi perkiraan populasi Badak Jawa pada bulan Feb-Nov 2011, jumlah
populasi perkiraan 35 individu, hasil dari kamera trap yang telah
teridentifikasi terdiri dari 22 individu Jantan, 13 Individu Betina dan 4
individu anak Badak terdiri dari 3 Jantan dan 1 Betina.
Kelangsungan
hidup badak jawa di TNUK terancam oleh berbagai faktor seperti bencana alam
(ledakan Gunung Krakatau, gempa bumi, dan tsunami), invasi langkap (Muntasib et
al. 1997), persaingan dengan banteng (Muntasib 2000), dan penyakit (Tiura et
al. 2006). Badak jawa juga menghadapi ancaman yang semakin meningkat dari
manusia seperti pemukiman, perladangan liar, dan perambahan hutan. Badak jawa
juga menghadapi perburuan liar guna memperoleh culanya. Akibat berkembangnya
anggapan bahwa cula badak mempunyai khasiat dalam pengobatan tradisional cina.
Selain itu, sebagai satwa yang memiliki sebaran terbatas, inbreeding yang dapat
mengakibatkan terjadinya penuranan kualitas dari genetik berpotensi terjadi
(Rahmat 2009, WWF 2009).
Ancaman
Menipisnya Populasi Badak Jawa
Meski relatif bertambah namun kondisi populasi badak
jawa di Taman Nasional Ujung Kulon sangat serius dan bisa berakhir pada
kepunahan jika tidak diambil langkah penyelamatan cepat dan konsisten.
1. Berkurangnya
keragaman genetis
Populasi badak
Jawa yang sedikit menyebabkan rendahnya keragaman genetis. Hal ini dapat
memperlemah kemampuan spesies ini dalam menghadapi wabah penyakit atau
bencana alam (erupsi gunung berapi dan gempa).
2. Degradasi
dan hilangnya habitat
Ancaman lain bagi
populasi badak Jawa adalah meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung
pertumbuhan populasi manusia. Pembukaan hutan untuk pertanian dan penebangan
kayu komersial mulai bermunculan di sekitar dan di dalam kawasan lindung tempat
spesies ini hidup.
Pelestarian R. sondaicus Desmarest
Untuk menyelamatkan badak jawa di TNUK diperlukan
adanya langkah strategis dan rencana tindakan konservasi dalam jangka panjang
secara in situ yang secara operasional mampu mempertahankan dan mengembangkan
populasi tersebut pada suatu tingkat yang aman dari ancaman kepunahan. Strategi
yang dimaksud adalah membuat rumah kedua (second habitat) bagi badak jawa
(Rahmat 2009).
WWF dan petugas Balai Taman Nasional memonitor badak
melalui kamera trap dan analisis DNA dari sampel kotoran. WWF memfokuskan
kegiatanya pada observasi perilaku, pola makan, serta penelitian mengenai
resiko dan ancaman wabah penyakit. Observasi terhadap pola prilaku badak dapat
memberikan informasi mengenai interaksi badak dengan lingkungan sekitarnya,
data-data fisiologis (misalnya tingkat respirasi) yang mengindikasikan tingkat
stress dan kondisi tiap individu badak.
DAFTAR
PUSTAKA
Adi
Saputra Gita, 2013, Mengenal Badak Jawa Ciri-ciri, Habitat & Populasi Badak
Jawa, diakses pada 23 September 2015
Admin TNUK, 2011, Populasi
Badak Jawa di TNUK, Jakarta, diakses pada 15 September 2015
Djuri
Sudarsono, tanpa tahun, Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) Salah
satu titipan Tuhan bagi Bangsa Indonesia, diakses pada
15 September 2015
Puspa
Setyorini Virna, 2014, Rumah kedua badak jawa, diakses pada 20
September 2015
WWF
Indonesia, 2011, Javan Rhino, diakses pada 15 September 2015
Suharjito
Didik, Afri Awang San, 2012, Populasi Badak Jawa di TNUK, diakses pada 23
September 2015
Priambudi Agus, 2010, Cara Berbeda Penghitungan Badak Jawa Di Ujung
Kulon Pada Tahun 2010, diakses pada 23 September 2015