Kamis, 12 November 2015



POPULASI BADAK JAWA DAN KELANGKAANNYA
DI INDONESIA

Pendahuluan
Badak jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) merupakan salah satu dari dua jenis spesies badak yang berada di indonesia. Spesies ini paling langka di antara 5 spesies badak yang ada di dunia (WWF 2009), sehingga badak jawa ini dikategorikan sebagai critically endangered atau terancam punah dalam daftar Red List Data Book yang dikeluarkan oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) (Ellis S 2010, IRF 2010, IRF 2011).
Sementara itu CITES (Convention of International Trade in Endangered Species) telah mengkategorikan badak jawa dalam kelompok Appendix I. Badak jawa juga diklasifikasikan sebagai jenis satwa dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar.



Klasifikasi Badak Jawa
Badak adalah binatang berkuku ganjil (perrisodactyla), pada tahun 1758 Linnaeus telah memberi nama marga (genus) Rhinoceros kepada badak jawa. Secara taksonomi badak Jawa diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub phylum : Vertebrata
Super kelas : Gnatostomata
Kelas : Mammalia
Super ordo : Mesaxonia
Ordo : Perissodactyla
Super famili : Rhinocerotides
Famili : Rhinocerotidae
Genus : Rhinoceros Linnaeus, 1758
Spesies : Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822
Rhinoceros: berasal dari bahasa Yunani yaitu rhino, berarti "hidung" dan ceros, berarti "cula" sondaicus: merujuk pada kepulauan Sunda di Indonesia. (Bahasa Latin -icus mengindikasikan lokasi), "Sunda" berarti "Jawa" Sedangkan dalam bahasa Inggrisnya Badak Jawa disebut Rhino javan.
Jenis Badak Didunia
Ada lima jenis badak didunia yaitu :
1.      Badak Afrika Putih
Badak afrika putih (Cerathotherium simum) adalah badak paling besar dengan tinggi badan 1,8 meter dan panjangnya bisa mencapai 5 meter, memiliki dua buah cula. Cula depan bisa mencapai 137 cm panjangnya dan cula kedua panjangnya bisa mencapai 60 cm.
2.      Badak Afrika Hitam
Badak afrika hitam atau Dicerros bicornis tingginya bisa mencapai 1,6 meter dan panjangnya 4 meter. Memiliki dua buah cula yang panjuangnya bisa mencapai 70cm di depan dan 50 cm di belakang.
3.      Badak India
Badak india (Rhinoceros unicornis) memiliki satu cula yang panjangnya mencapai 60 cm. Tinggi badan 170 cm, dan panjang 3,8 meter. Badak ini hidup di anak benua bagian selatan.
4.      Badak Sumatera
Badak Sumatera memiliki dua buah cula yang bisa mencapai panjang 80cm di bagian depan  dan 20 cm di bagian belakang. Tinggi badan 140 cm dan panjang mencapai 3 meter. Badak Sumatera dapat dijumpai   di pulau Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) atau sering juga disebut badak kerbau. Badak ini (Dicerprhinus harrissoni) juga dapat ditemukan di kawasan hutan di Kalimantan timur.
5.      Badak Jawa
R. sondaicus Desmarest adalah jenis badak yang paling kecil dengan tinggi badan 140 cm, dan panjangnya 3 meter. Memiliki satu cula dengan panjang mencapai 30 cm.

Deskripsi Analitik

Berdasarkan penampilan bentuk tubuh dan rupa, badak jawa memiliki ciri fisik sebagai berikut:
*      Tinggi dari telapak kaki hingga bahu berkisar antara 168-175 cm.
*      Panjang tubuh dari ujung moncong hingga ekor 392 cm dan panjang bagian kepala 70 cm.
*      Tubuh badak lebih kecil dari pada badak india serta lebih dekat atau hampir sama besar tubuhnya dengan badak hitam.
*      Memiliki bibir atas lengkung-mengait kebawah (hooked upped).
*      Bercula satu dengan ukuran panjang sampai 25 cm, lebih kecil dari pada cula spesies badak yang lain.
*      Berat tubuhnya dapat mencapai 1.280 kg.
*      Tubuhnya tidak berambut kecuali dibagian telinga dan ekornya.
*      Tubuhnya dibungkus kulit yang tebalnya antara 25-30 mm
*      Memiliki lipatan kulit tubuh seperti baju besi (Armor platted). Baju besi kulit rhino ini membuat penampilannya menjadi sangat gagah dan anggun. Hal itu seperti baju besi untuk berperang para kesatria kerajaan Yunani atau kerajaan Romawi.
*      Kulitnya yang sedikit berbulu, memiliki warna abu-abu atau abu-abu-coklat membungkus di pundak, punggung dan pantat. Kulitnya mempunyai pola mosaik alami yang mengakibatkan badak mempunyai perisai. Pembungkus leher badak Jawa lebih kecil dari pada badak india, namun terus membentuk wujud pelana pada pundak.
*      Warna cula abu-abu gelap atau hitam, warnanya semakin tua semakin gelap, pada pangkalnya lebih gelap dari pada ujungnya.

Deskripsi Diagnostik
1.      Kegunaan Cula
Badak jawa jarang memakai culanya untuk bertarung, namun memakainya untuk memindahkan lumpur di kubangan, untuk menarik tanaman supaya bisa dimakan, dan membuka jalur melewati vegetasi yang tipis.
2.      Reproduksi
Badak jawa memiliki usia yang cukup panjang, yaitu mencapai usia 35 tahun. Badak jantan mencapai fase dewasa setelah 10 tahun, sementara betina pada usia 5 sampai 7 tahun dengan masa mengandung selama 15 – 16 bulan. Dan masa Interval kelahiran spesies ini 4–5 th. Sehingga menyebabkan pertumbuhan populasi badak jawa menjadi sangat lambat, yaitu sekitar 1% per tahun.
Badak jawa mempunyai perilaku unik dalam menarik perhatian pasangan pada saat bercumbu dan melakukan perkawinan. Cara menarik pasangan dilakukan dengan saling adu kekuatan dan berkelahi. Dimulai dengan suara ancaman yang kemudian dilanjutkan dengan bentrok adu kekuatan, biasanya dimulai oleh Rhino betina. Sehingga tidak mengherankan, adanya luka-luka pada Rhino Jawa. Namun demikian, tidak pernah dijumpai adanya perkelahian antara sesama jantan untuk memperebutkan betina.
3.      Berkubang
Berkubang digunakan badak untuk melindungi suhu tubuh dan dapat menghindari dari penyakit dan parasit. Badak jawa tidak menggali kubangan lumpurnya sendiri, namun lebih senang memakai kubangan binatang yang lain atau lubang yang nampak dengan cara alami, yang dapat memakai culanya untuk memperluas wilayah kubangan. Area mencari mineral juga amat mutlak di karenakan nutrisi badak di terima dari garam. Wilayah jantan semakin luas dibanding betina dengan luas lokasi jantan 12–20 km² dan lokasi betina yang diperkirakan 3–14 km².
4.      Bertarung
Gigi serinya panjang dan tajam ; saat badak jawa bertempur, mereka memakai gigi ini. Badak Jawa dewasa tak mempunyai musuh alami. Spesies ini melarikan diri ke rimba saat manusia mendekat hingga sukar untuk diteliti. Saat manusia terlampau dekat dengan badak jawa, badak itu dapat menjadi agresif dan dapat menyerang, menikam dng gigi serinya di rahang bawah, serta dengan kepalanya. Karakter anti-sosialnya barangkali adalah adaptasi tekanan populasi ; bukti histori mengusulkan bahwa spesies ini dulu lebih berkelompok.

5.      Makanan
Badak jawa merupakan hewan herbivora dan makan berbagai macam spesies tanaman, terlebih tunas, ranting, dedaunan muda dan buah yang jatuh. Umumnya tumbuhan yang disukai oleh spesies ini tumbuh di tempat yang terkena cahaya matahari, yaitu pada pembukaan lahan baru, semak-semak dan jenis vegetasi yang lain tanpa pohon besar. Badak menjatuhkan pohon muda untuk meraih makanannya dan mengambilnya dengan bibir atasnya yang panjang dan tinggi. Di belakang gigi seri, enam gigi geraham panjang dipakai untuk mengunyah tanaman kasar.
Dalam mencari makanan, badak jawa melakukannya di malam hari dengan pergi ketempat-tempat dekat hutan yang didominasi semak belukar yang lebat atau dengan pepohonan yang bertangkai rendah dekat sungai dan dataran rendah pesisir Ujung Kulon seperti daerah Karang Ranjang, Cikeusik, Gunung Honje sampai Tanjung Ujung Kulon.
Badak jawa dewasa berbobot 900 – 2300 kg , dan diperkirakan makan 50 kg makanan per hari. Layaknya badak Sumatra, spesies badak ini membutuhkan garam untuk makanannya. Area melacak mineral umumnya tak ada di Ujung Kulon, namun badak Jawa tampak minum air laut untuk nutrisi sama yang diperlukan. Masalah terbesar yang ada di Ujung Kulon, sebagian makanan badak serupa dengan banteng (Bos javanicus) yang menyebabkan mereka harus berkompetisi mendapatkan makanan.

Habitat dan Penyabaran

            Gambar 2. Peta penyebaran badak jawa

R. sondaicus Desmarest pernah menyebar dari Assam dan Benggala, (tempat tinggal mereka akan saling melengkapi antara badak Sumatra dan India di tempat tersebut), ke arah timur sampai Myanmar,  Thailand,  Kamboja,  Laos, Vietnam, dan ke arah selatan di semenanjung Malaya, serta pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Badak Jawa hidup di hutan hujan dataran rendah, rumput tinggi dan tempat tidur alang-alang yang banyak dengan sungai, dataran banjir besar atau daerah basah dengan banyak kubangan lumpur. Walaupun dalam sejarah badak jawa menyukai daerah rendah, subspesies di Vietnam terdorong menuju tanah yang lebih tinggi (diatas 2.000 m), yang disebabkan oleh gangguan dan perburuan oleh manusia.
Tempat hidup R. sondaicus Desmarest telah menyusut selama 3.000 tahun terakhir, dimulai sekitar tahun 1000 SM, tempat hidup di utara badak ini meluas ke Tiongkok, tetapi mulai bergerak ke selatan secara kasar pada 0.5 km per tahun karena penetap manusia meningkat di daerah itu. Badak ini mulai punah di India pada dekade awal abad ke-20. Dan diburu sampai kepunahan di semenanjung Malaysia tahun 1932.
R. sondaicus Desmarest dapat hidup selama 30-45 tahun di alam bebas. Badak ini hidup di hutan hujan dataran rendah, padang rumput basah dan daerah daratan banjir besar. R. sondaicus Desmarest biasanya menghindari manusia, tetapi akan menyerang manusia jika merasa diganggu. Peneliti dan pelindung alam jarang meneliti binatang itu secara langsung karena kelangkaan mereka dan adanya bahaya mengganggu sebuah spesies terancam. Peneliti menggunakan kamera dan sampel kotoran untuk mengukur kesehatan dan tingkah laku mereka. Oleh karena itu R. sondaicus Desmarest lebih sedikit dipelajari daripada spesies badak lainnya.


Populasi R. sondaicus Desmarest

Gambar 3. Populasi Badak Jawa dari tahun 1967-2009 di Ujung Kulon


Akibat perburuan liar, jumlah badak jawa menurun drastis. Menurut data yang dirilis WWF, pada tahun 1960-an jumlahnya hanya 20 hingga 30 ekor saja di Ujung Kulon. Setelah upaya konservasi sepanjang 1967 sampai 1978, populasinya meningkat hingga dua kali lipat.
Pada tahun 1967-2008 inventarisasi atau yang lebih dikenal dengan istilah ”Sensus Badak jawa” dengan metode Schenkel ”track count with strip method” yakni menaksir besar populasi dan klasifikasi umur badak berdasarkan perhitungan jejak atau tapak kaki yang ditemukan di 15 buah jalur transek permanen yang dibuat dengan jarak antar transek ± 2km. Namun metode sensus atau track count with strip method ini dinilai kurang memuaskan. Hal ini terjadi karena faktor-faktor “human error”. Sehingga beralih ke metode capture, mark and recapture (CMR) yaitu pemasangan kamera trap, maka akan didapatkan validitas data yang lebih baik karena hal ini sangat penting untuk mendapatkan jumlah populasi yang mendekati kebenaran dan berhubungan dengan strategi penyelamatan satwa ini di masa datang.
WWF Indonesia mengupayakan untuk mengembangkan habitat kedua untuk badak jawa di karenakan bila berlangsung serangan penyakit atau bencana alam layaknya tsunami, letusan gunung berapi Krakatau serta gempa bumi, populasi badak jawa dapat segera punah. Disamping itu, di karenakan persaingan dengan populsi banteng untuk ruang dan juga makanan, maka populasinya makin terdesak.
Populasi Rhinoceros sondaicus, menurut hasil pendataan 2011 mengalami penurunan. Jumlah sebelumnya adalah 50 ekor di kawasan TNUK kini tinggal 35 ekor.
Pendataan itu berdasarkan hasil rekaman video trap yang dipasang di sejumlah titik di kawasan Semenanjung Ujung Kulon. Dari 35 ekor itu sebagian besar berjenis jantan.
WWF-Indonesia memperkirakan populasi Badak Jawa di Ujung Kulon berada dalam kisaran 29 - 47 individu dengan nilai rata-rata 32 ekor (data tahun 2009-2010) yang kemudian dilanjutkan oleh  Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) di tahun 2011 dengan, informasi perkiraan populasi Badak Jawa pada bulan Feb-Nov 2011, jumlah populasi perkiraan 35  individu, hasil dari kamera trap yang telah teridentifikasi terdiri dari 22 individu Jantan, 13 Individu Betina dan 4 individu anak Badak terdiri dari 3 Jantan dan 1 Betina.
Kelangsungan hidup badak jawa di TNUK terancam oleh berbagai faktor seperti bencana alam (ledakan Gunung Krakatau, gempa bumi, dan tsunami), invasi langkap (Muntasib et al. 1997), persaingan dengan banteng (Muntasib 2000), dan penyakit (Tiura et al. 2006). Badak jawa juga menghadapi ancaman yang semakin meningkat dari manusia seperti pemukiman, perladangan liar, dan perambahan hutan. Badak jawa juga menghadapi perburuan liar guna memperoleh culanya. Akibat berkembangnya anggapan bahwa cula badak mempunyai khasiat dalam pengobatan tradisional cina. Selain itu, sebagai satwa yang memiliki sebaran terbatas, inbreeding yang dapat mengakibatkan terjadinya penuranan kualitas dari genetik berpotensi terjadi (Rahmat 2009, WWF 2009).

Ancaman Menipisnya Populasi Badak Jawa
Meski relatif bertambah namun kondisi populasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon sangat serius dan bisa berakhir pada kepunahan jika tidak diambil langkah penyelamatan cepat dan konsisten.
1.      Berkurangnya keragaman genetis
Populasi badak Jawa yang sedikit menyebabkan rendahnya keragaman genetis. Hal ini dapat memperlemah kemampuan spesies ini dalam menghadapi wabah penyakit atau bencana alam (erupsi gunung berapi dan gempa).
2.      Degradasi dan hilangnya habitat
Ancaman lain bagi populasi badak Jawa adalah meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung pertumbuhan populasi manusia. Pembukaan hutan untuk pertanian dan penebangan kayu komersial mulai bermunculan di sekitar dan di dalam kawasan lindung tempat spesies ini hidup.


Pelestarian R. sondaicus Desmarest
Untuk menyelamatkan badak jawa di TNUK diperlukan adanya langkah strategis dan rencana tindakan konservasi dalam jangka panjang secara in situ yang secara operasional mampu mempertahankan dan mengembangkan populasi tersebut pada suatu tingkat yang aman dari ancaman kepunahan. Strategi yang dimaksud adalah membuat rumah kedua (second habitat) bagi badak jawa (Rahmat 2009).
WWF dan petugas Balai Taman Nasional memonitor badak melalui kamera trap dan analisis DNA dari sampel kotoran. WWF memfokuskan kegiatanya pada observasi perilaku, pola makan, serta penelitian mengenai resiko dan ancaman wabah penyakit. Observasi terhadap pola prilaku badak dapat memberikan informasi mengenai interaksi badak dengan lingkungan sekitarnya, data-data fisiologis (misalnya tingkat respirasi) yang mengindikasikan tingkat stress dan kondisi tiap individu badak.


DAFTAR PUSTAKA
Adi Saputra Gita, 2013, Mengenal Badak Jawa Ciri-ciri, Habitat & Populasi Badak Jawa, diakses pada 23 September 2015

Admin TNUK, 2011, Populasi Badak Jawa di TNUK, Jakarta, diakses pada 15 September 2015

Djuri Sudarsono, tanpa tahun, Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) Salah satu titipan Tuhan bagi Bangsa Indonesia, diakses pada 15 September 2015
Puspa Setyorini Virna, 2014, Rumah kedua badak jawa, diakses pada 20 September 2015

WWF Indonesia, 2011, Javan Rhino, diakses pada 15 September 2015

Suharjito Didik, Afri Awang San, 2012, Populasi Badak Jawa di TNUK, diakses pada 23 September 2015

Priambudi Agus, 2010, Cara Berbeda Penghitungan Badak Jawa Di Ujung Kulon Pada Tahun 2010, diakses pada 23 September 2015